Menatap kosong


13420605571284578274

Hambar, hampa dan gelisah seakan ruh ini tak hidup. Mata menatap kosong mencari satu terang. Pikiran berputar menerka jalan . Hati meronta meminta rasa yang amat menguras peluh. 

Marah, bingung dan terpuruk. Semua menyatu dalam hampa. Hati sudah tak dapat lembut seperti sediakala, batinpun tak dapat lagi merasakan ketenangan.

Sendiri menyepi salah satu langkah yang dapat diambil ketika sedang berada dalam puncak kelelahan. Entah lelah karena padatnya aktifitas  dan tugas yang makin menumpuk. Ataukah amanah yang kian menekan pundak tanpa sandaran bahu sahabat. Atau mungkin kondisi kesehatan yang semakin rentan karena sudah tak dipedulikan sang pemilik jiwa.

Uring-uringan memikirkan jalan keluar agar terlepas dari rasa hidup yang hampa dan hambar. Merenung berhari-hari tak dapat menemukan jalan keluar. Menangis di sepertiga malampun seperti sia-sia karena sudah tak dapat lagi merasakan nikmatnya bercengkrama dengan Sang Pemilik Hati. Rupanya ketika kosong tengah merajai, hati pun menciut dan berkarat bahkan mengeras dan membeku. Sakit rasanya diterpa keadaan yang seperti itu.

 

Gigi beradu menggeram. Ingin rasanya marah, tetapi bingung. Emosi berada diubun puncak. Ingin sekali menumpahkannya.

..Laa Tahzan InnALLAHa ma’anaa..” sepotong ayatnya tiba-tiba mampu mengikis habis keterpurukan yang tengah merasuk dengan seketika. Entah sudah menemukan jawaban atas segala keresahan qalbu atau merasa sedikit tertampar dengan sepotong ayat yang mampu menicptakan bulir-bulir bening yang mengalir disudut mata.

Makin menilik terjemahannya “…Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…” .

Astagfirullah. Begitu banyak dosa dan kesesatan yang dengan nikmat terus saja dijalani, tanpa ada rasa salah. Hingga tiba kehampaan menerpa, keresahan datang tak bertepi baru tersadar.

Rupanya Allah selalu ada. Sekejam apapun keterpurukan itu datang menyerbu. Senantiasa Allah menjaga dan menjadi pelipur. Hanya terkadang kita lupa dan bahkan tidak peduli. Allah selalu ada sebagai tempat haribaan pertama dan terakhir.

Categories: Goresan Hati | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: